Objek dan Subjek Pendidikan-juliani maatiala
OBJEK DAN SUBJEK PENDIDIKAN
Juliani A. Maatiala
julianimaatiala@gmail.com
objek dan subjek pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik dan benar serta indah untuk kehidupan. ini mempunyai fungsi yaitu, memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan suatu yang dapat kita capai oleh segenap kegiatan pendidikan. Dapat dikatakan bahwa suatu komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. ini menunjukan bahwasanya objek dan subjek dalam pendididkan merupakan konsep dasar sebuah pengatahuan mendalam mengenai pengajaran/ pendidikan terhadap seseorang dimana seseorang tersebut menjadi tujuan dalam pendidikan . Hasil membuktikan bahwa tujuan objek dan subjek dalam pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia.(Technologies, 2020)
Kata kunci : Objek dan subjek pendidikan
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah pembelajaran untuk mencapai pengatahuan serta keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi dengan cara melakukan pelatihan dan pengajaran atau penilitian.
Dalam dunia pendidikan tentunya tidak lepas dari pendidik dan peseta didik. berhasil dan tidaknya proses pembelajaran tergantung dari objek dan subjek pendidikan, hal ini berkaitan dengan kemampanan ilmu pendidikan dan kemampuan peserta didik dalam menerima ilmu, seseorang pendidik memberikan motivasi kepada peseta didik, agar hasil yang telah direncanakan tercapai dengan maksimal. Dan inilah pentingnya sebuah
pengatahuan tentang objek dan subjek pendidikan, dalam hal ini mendorong kecerdasan seseorang.
Subjek dan objek pendidikan merupakan inti dari pendidikan sebagai proses. Perlu dibedakan pengertian pendidikan arti luas atau arti umum yang terkait dengan tindakan mendidik dan pendidikan dalam arti yang khusus atau terbatas yang terkait dengan tindakan mengajar. Singkatnya perlu dibedakan antara pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan subjek dan objek pendidikan, dengan subjek dan objek pengajaran. Pada dasarnya, baik pendidikan maupun pengajaran merupakan proses atau pergaulan yang melibatkan dua variabel yaitu pendidik (pengajar, pembelajar) dan si terdidik (siswa, murid, si belajar, pembelajar). Antara dua variabel tersebut terjadi hubungan pengaruh dari orang dewaasa terhadap anak muda atau dari pembelajaran terhadap pembelajar, yang disebut kewibawaan. Dengan demikian dapat ditemukan adanya subjek dan objek pendidikan. Istimewanya dalam hal ini, si terdidik karena hakikatnya sebagai pribadi, bukan sekedar barang atau benda, walaupun menjadi sasaran dalam tindakan mendidik, tidak dapat hanya disebut objek, melainkan juga subjek. Si terdidik adalah sasaran, pelengkap penderita atau objek, tetapi juga sebagai subjek yang menentukan dirinya sendiri. Dengan demikian subjek pendidikan adalah pendidik sedang objek pendidikan adalah si terdidik yang sekaligus juga sebagai subjek pendidikan.(Pendidikan & Pengantar, 2020)
Pedidikan
Definisi Pendidik
Dalam pendidikan arti umum, yang disebut pendidik adalah orang dewasa yang susila atau manusia yang telah menjadi pribadi seutuhnya atau manusia yang telah berbudaya. Hal ini sejalan dengan definisi pendidikan yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses pendewasaan anak muda yang belum dewasa atau definisi pendidikan oleh Drijarkara, yaitu memanusiakan manusia (hominisasi) lewat pembudayaan (humanisasi). Hanya manusia dewasa yang susila, pribadi yang utuh dan berbudaya yang mampu melakukan tindakan mendidik, sebagai subjek pendidikan. Orang yang belum dewasa, tidak susila, bukan pribadi yang utuh dan berbudaya tidak mungkin menjadi pendidik. Mendidik adalah memberikan apa yang dimiliki, mentransfer (transmisi dan transformasi) nilai-nilai, yaitu nilai kedewasaan, kesusilaan, kepribadian atau kemanusiaan dan kebudayaan. Hanya orang tua yang memiliki nilai-nilai tersebut yang mampu memberikan nilai-nilai sebagai tindakan mendidik. Pendidik adalah orang dewasa dan susila yang memiliki pengetahuan atau menguasai materi pembelajaran, yaitu guru. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai pengganti sementara orang tua, mengambil alih tugas mendidik atau membantu orang tua melakukan tindak mendidik secara praktis yaitu mengajar, memberi instruksi, melatih, memotivasi, dan memberi nasihat hingga anak menjadi terpelajar. Dengan demikian pendidik dalam kaitannya dengan pembelajaran dapat terdiri atas: guru, pembimbing/konselor, pelatih, penatar, widyaiswara, instruktur, tutor, bahkan juga kepala sekolah, administrator, pustakawan, dan laboran sekolah. Pada dasarnya mereka itulah yang mentransfer ilmu pengetahuan pada adak didik sehingga anak menjadi terdidik, terlatih, dan utamanya terpelajar.
Karakteristik Pendidik
Karakteristik pendidik baik pendidik dalam pendidikan umum maupun pendidikan dalam pengajaran adalah dewasa, susila, mandiri atau bertanggung jawab, berbudaya, orang yang telah terdidik/pelajar, yaitu orang yang telah berkembang kemampuan intelektualnya yang sensitif terhadap masalah sosial dan estetik, yang mampu mengapresiasi hakikat dan kekuatan berpikir matematis dan ilmiah, yang mampu memandang dunia dari perspektif sejarah dan geografik, dan lebih dari itu yang memperhatikan pentingnya pemikiran yang benar, tepat dan elegan. Khusus untuk guru dan dosen, Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal 8 merumuskan: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasiona. Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetens kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (akademik) yang diperoleh melalui pendidikan profesi (pasal 10 ayat 1), dan melalui pendidikan tinggi program sarjana atau diploma 4 (pasal 9). Dengan demikian sesuai Undang-Undang tersebut dapat dikatakan bahwa karakteristik pendidik atau guru yang profesional adalah pendidik/guru yang menguasai (matang, kompten) dalam aspek: pedagogik, kepribadian, sosial, dan akademik. Pendidik/guru yang profesional adalah pendidik atau guru yang mampu menguasai materi yang harus diajarkan (profesional, akademik), mampu mengajarkan (metodis, didaktis, pedagogis), berkepribadian matang (kompetensi kepribadian), dan memiliki kematangan sosial (kompetensi soaial).
Tanggung Jawab Pendidik
Pendidik yang bertanggung jawab adalah pendidik yang menyadari tugasnya dan mau melaksanakan tugas itu dengan sebaik baiknya demi tercapainya tujuan pendidikan, tidak mencari cari alasan untuk mengingkari tugasnya. Pendidik harus menghayati tugsanya sebagai panggilan hidu. Unsur penting dalam panggilan hidup adalah mengembangkan orang lain dan mengembangkan diri sendiri sebagai pribadi. Pilihan pendidik untuk melakukan tugas mendidik dipengaruhi oleh faktor-faktor : iman/kayakinannya, anak didik, orang tua, masyarakat, bangsa/negara, tempat dan waktu serta budaya dimana pendidikan berlangsung, dan tuhan sendiri. Deskripsi sifat-sifat pendidik yang bertanggung jawab sebagai berikut :
Menerima dan mematuhi norma nilai-nilai kemanusiaan.
Memikul tugas mendidik secara bebas, berani, gembira, tanpa beban.
Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati).
Menghargai anak didik, dan orang lain yang terkait dengan tugas mendidik.
Bijaksana dan hati-hati, tidak sembrono, asal-asalan, berpikir dangkal.
Taqwa kepada tuhan yang maha esa.
Peranan Pendidik
Dalam proses pendidikan, pendidik memiliki peran penting karena tanpa pendidik anak didik tidak mungkin tumbuh dan berkembang secara wajar. Contoh anak manusia yang sejak bayi hidup di tengah hutan dan diasuh oleh serigala, ternyata tidak mampu hidupdi tengah hutan sebagai manusia normal. Bayi manusia itu bertingkah laku seperti serigala. Jadi sampai batas tertentu anak didik memiliki ketergantungan pada pendidik. Dalam hal ini peran pendidik hanyalah membantu/melayani anak didikuntuk mengaktualisasikan potensinya, sesuai dengan minat dan bakatnya, sesuai pilihan bebasnya. Pendidik berperan mewakili kata hati anak didik ( Tanlain, 1987:32 ). Anak didik harus dibantu untuk menjadi dirinya sendiri, bukan dari pendidiknya. Pendidik termasuk orang tua, harus dapat menerima anak didik sebagaimana adanya, baik pandai, biasa-biasa saja, atau lemah intelektualnya. Ada kecenderungan banyak orang tua tidk menerima anak sebagai apa adanya, cenderung memaksakan kehendak terhadap anak. Hal ini termasuk bentuk kekerasan terhadap anak, suatu bentuk pendidikan yang tidak membebaskan/memerdekakan dan tidak demokratis (Suparno, 2004:25-46; dalam Widiastono, 2004: 127-128). Peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama adalah menerima anak, mencintai, mendorong dan membantu anak aktif dalam kehidupan bersama, agar anak memiliki nilai hidup jasmani, nilai kebenaran dan kejujuran, nilai moral dan etika, nilai keindahan/ estetika, nilai religius/ keagamaan, serta mampu bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Sebagai pendidik pertama dan utama orang tua berperan mengajarkan pengetahuan tentang agama (religius), tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik (moral, etika), apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana melakukan (etiket, sopan-santun), pergaulan dengan masyarakat (norma sosial), tanggung jawab terhadap diri sendiri (identitas, integritas, jati diri), dan orang lain (kekitaan, pluralitas, inklusif). Semua pendidik diluar orang tua berperan membantu orang tua, melaksanakan sebagian tugas mendidik yang dilakukan oleh orang tua, memperoleh otoritas dari orang tua, maka tidak pernah akan menggantikan atau mengambil-alih peran orang tua dalam mendidik anaknya. Tanggung jawab akhir mendidik ada ditangan orang tua. Apabila dalam melakukan pendidikan tersebut ternyata mengalami kesulitan, misalnya tidak berdaya mengatasi kenakalan anak, maka pemecahan terakhir diserahkan kembali pada orang tua.(Pendidikan & Pengantar, 2020)
Peserta Didik
Difinisi peserta didik
Peserta didik adalah mereka yang sedang mengalami proses dididik. Mereka dalah manusia muda yang belum dewasa, dalam proses menuju kedewasaan; manusia yang sedang dalam proses memanusiakan dirinya menjadi manusia seutuhnya; manusia yang dalam proses pembudayaan atau membudayakan dirinya menuju manusia yang beradab. Menurut Drost (2000:21), mereka itu adalah manusia yang masih perlu dibentuk: kanak-kanak, anak, remaja, dan adolesens atau pemuda, usia antara 0 tahun sampai 20 tahun. Ia menegaskan bahwa kalau sesudah usia 20 tahun masih harus dididik artinya pendidikan gagal. Dalam arti umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Dalam arti sempit, anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (Tanlain dkk., 1987: 33-34; mengutip dari Bernadib, 1985: 39; Langeveld, 1971: pasal 34).
Karateristik Peserta Didik
Karakteristik, ciri-ciri, atau sifat-sifat peserta didik dapat ditelusuri dnegan mudah dengan membalikkan karakteristik dari pendidik,yaitu manusia yang belum atau sedang menuju menjadi manusia : dewasa, susila, seutuhnya, berjatidiri, berintegritas, bermartabat,berbudaya, beradab, mandiri, bertanggung jawab, singkatnya adalah anak yang belum dan sedang menjadi manusia terdidik. Adapun ciri-ciri manusia terdidik, kemampuan intelektualnya telah berkembang, yang sensitif terhadapmasalah-masalah moral dan estetika, yang mampu mengapresiasi hakikat dan kekuatan pemikiran matematika dan ilmiah, yang mampu memandang dunia dengan perspektif sejarah dan geografi,dan lebih dari itu yang memperhatikan pentingnya kebenaran, ketepatan, dan elegan dalam berpikir. Peserta didik perlu memanusiakan dirinya melalui pendidikan. Kemanusiaan bukanlah barang jadi, tetapi sesuatu yang harus ditemukan dan diwujudkan terusmenerus (ongoing formation). Manusia selalu dalam proses “menjadi”. Ia tidak hanya being, tetapi juga becoming, suatu gerak, proses, transisi, yang tidak pernah selesai. Kodrat manusia adalah kemanusiaan yang belum selesai, masih harus muncul, lahir, dan mewujud dalam sejarah. (Sastrapratedja dalam Widiastono, 2004: 3-4). Peserta didik memang belum dewasa, tetapi sedang tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Ia belum susila, tetapi sedang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang susila. Ia belum sebagai manusia yang utuh, tetapi sedang tumbuh dan berkembang menuju manusia seutuhnya. Ia belum berjatidiri, berintegritas, bermartabat, tetapi sedang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berjatidiri, berintegritas, dan bermartabat. Ia memang belum berbudaya dan beradab, tetapi sedang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berbudaya dan beradab.
Tanggung Jawab Peserta Didik
Dalam mengaktualisasikan potensi dirinya peserta didik memerlukan bantuan pendidik. Tanpa bantuan pendidik potensi tersebut tidak mungkin mengaktualisasikan diri secara baik dan wajar. Itulah yang disebut sifat ketergantungan anak didik kepada pendidik. Karena masih bersifat ketergantungan, maka anak didik juga belum mampu bertanggung jawab sendiri, memilih dan mengambil keputusan sendiri secara bebas, maka menyerahkan tanggung jawab dan kebebasannya tersebut sementara kepada pendidi. Dengan demikian pendidik akan melakukan tindakan mendidik sejalan dengan besarnya ketergantungan dan tanggung jawab yang diserahkan oleh anak didik. Maka pendidik dalam tindakan mendidiknya. Ketergantungan dan dan kebebasan serta tanggung jawab yang diserahkan kepada pendidik itu akan ditarik kembali secara berangsur-angsur seirama dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Makin dewasa ketergantungannya makin berkurang dan tanggung jawabnya makin besar; pada saatnya anak didik akan melepas ketergantungannya dan bertanggung jawab sepenuhnya. Itulah yang disebut sebagai manusia terdidik.
Peranan Peserta Didik
Peranan peserta didik ditentukan oleh lingkungan kehidupan dimana proses pendidikan berlangsung. Lingkungan pendidikan adalah keluarga (pendidik informal), masyarakat (pendidik nonformal, pendidikan luar sekolah), dan sekolah (pengajaran formal). Peran peserta didik juga ditentukan oleh bentuk atau upaya pendidikannya. Pendidikan terlaksana dalam tiga bentuk atau upaya, yaitu pembiasaan, peneladanan, dan pembelajaran. Besar dan proporsi peran serta peserta didik tergantung teori atau pendekatan atau asumsi terhadap pendidikan itu sendiri. Berikut ini paparannya Dalam keluarga, terlaksana lebih dalam bentuk atau upaya pembiasaan dan peneladanan, utamanya pada tingkat awal-awal pendidikan. Orang tua menanamkan nilai-nilai (internalisasi nilai, pembatinan nilai) lewat pembiasaan dan peneladanan. Anak dibiasakan makan dan tidur secara teratur, diberikan teladan bagaimana berdoa, berlaku sopan, bersikap sosial dan menolong, bersikap hormat pada orang tua, dan seterusnya. Jadi didalam pendidikan keluarga, anak didik berperan sebagai orang yang berlatih untuk membiasakan diri dengan norma-norma keluarga dan meniru atau meneladani tindakan-tindakan orang lebih tua. Di dalam masyarakat, anak didik berperan sebagai anggota masyarakat. Dalam masyarakat ada berbagai lembaga, seperti lembaga aagama, lembaga sosial, lembaga politik dan lain-lain. Anak dapat menjadi anggota lembaga-lembaga tersebut sebagai anak didik. Setiap lembaga memiliki norma-norma khusus yang harus ditaati oleh para anggotanya. Dalam kaitannya dengan pendidikan lembaga-lembaga dimasyarakat tersebut lebih menitik-beratkan upayanya pada peneladanan dan pembelajaran/pelatihan. Dengan demikian peran anak didik pada lembaga-lembaga masyarakat tersebut lebih sebagai pengambil teladan, walaupun tentu juga terjadi peran meniru dan belajar/berlatih. Oleh karena itu sebagai konsekuensinya, masyarakat lebih dituntut memberi teladan dalam kaitannya dengan upaya pendidikan. Di sekolah, anak didik lebih dominan dengan kegiatan belajar walaupun pasti ada upaya pembiasaan dan peneladanan. Memang tugas utama sekolah adalah mengajar. Oleh karena itu peran anakdidik di sekolah adalah belajar, dengan demikian yang lebih dominan adalah belajar (siswa aktif) bukan mengajar (siswa pasif), swalaupun kegiatan belajar baru muncul setelah adanya kegiatan mengajar, proses mengajar-belajar, bukan belajar-mengajar. Oleh karena itu diupayakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Bagaimanapun, peran anak didik tidak dapat dipisahkan dari peran pendidik, sebab pendidikan hanya terjadi bila ada peran pendidik dan peran anak didik. Peran pendidik tersimpul dalam otoritas sedang peran anak didik tersimpul dalam partisipasi(Jordan, 2013)
METODE PENDIDIKAN
Definisi Metode Pendidikan Metode pendidikan merupakan cara praktis yang dipakai pendidik untuk menyampaikan materi pendidikan agar bisa secara efektif dan efisien diterima oleh peserta didik. Metode yang dipilih selalu disesuaikan dengan hakikat pembelajaran, karateristik peserta didik, jenis materi pelajaran, situasi dan kondisi lingkungan, dan tujuan yang akan dicapai. Ada banyak metode yang bisa dipilih oleh guru dalam mengajar, misalnya:
Ceramah
Diskusi (discussion)
Praktik
Bermain peran (role playing)
Pemecahan masalah (problem solving)
Inkuiri reflektif (inquiry reflective)
Penyampaian Cerita (story telling)
Investigasi (investigation)
Kerja Lapangan (field work)
Pertimbangan dalam memilih metode pendidikan Fungsi untuk metode pendidikan adalah menghantar tindakan mendidik untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Tercapainya tujuan pendidikan ditentukan dalam berbagai faktor, yaitu :
Tujuan yan telah ditetapkan. Metode tidak dapat dilepaskan dari tuuan yang telah ditetapkan. Jadi tujuan pendidikan turut menentukan metode yang digunakan. Tujuan berperan penting dalam menentukan metode, sebagaimana pernah menjadi sikap penganut paham komunis; artinya tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik pula. Tujuan pendidikan yang berbeda pula menuntu pendidikan yang berbeda pula. Misalnya, untuk penanaman nilai-nilai dan penyampaian fakta-fakta atau informasi lebih baik tidak mengunakan metode ceramah, sedang untuk pemecahan masalah lebih tepat digunakan metode diskusi.
Lingkungan, suasana, dan fasilitas pendidikan. Lingkungan biasanya terkait erat suasana fasilitas yang tersedia. Dengan suasana dan fasilitas yang berbeda dituntut cara melaksanakan pendidikan yang berbeda pula. Misalnya, untuk mendidik anak-anak desa diperlukan cara atau metode yang berbeda dari mendidik anak-anak dari kota, demikian pula untuk anak kaya dan yang miskin, untuk limgkungan petani, nelayan, pegawai, buruh dan seterusnya.
Sistem dan kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan erat terkait dengan kurikulum yang digunakan. Dalam system pendidikan di Indonesia pernah berlaku berbagai jenis kurikulum, termasuk yang terakhir adalah KBK(Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan PEndidikan). Dari sisitem dan kurikulum pendidikan yang berbeda-beda itu juga pernah menimbulkan model, pendekatan, dan startegi atau metode pendidikan yang berbeda, seperti pendekatan CBSA (Cara Belajar Sisiwa Aktif), CTL (Contektual Teaching Learning), Sistem Pembellajaran Terpadu, Pembelajaran Tematis, pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan) atau PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan). Khusus yang terkait dengan waktu yang tersedia dalam kurikulum, waktu yang berbeda juga menutut metode yang berbeda pula, termasuk bila materi yang dididikan sama. Misalnya, metode diskusi, pemberian tugas, penemuan nuntut waktu yang lebih lama, sedang metode ceramah tidak baik bila berlangsung terlalu lama. Untuk waktu pagi-pagi ceramah bisa masih efektif, tetapi pada siang hari ceramah harus diselingi dengan humor-humor tertentu.
Kebutuhan anak didik. Kebutuhan anak didik dapat diartikan sebagai tingkat perkembangan anak didik, kemampuan anak didik, situasi dan kondisi anak didik. Misalnya, untuk taman kanak-kanak digunakan metode bercerita, bernyanyi, dan bermain. Metode diskusi, studi bebas, penemuan lebih efektif untuk anak tingkat pendidikan menengah dan tinggi.
Kemampuan pendidik. Kemampuan ini dapat meliputi kemampuan untuk menemukan memfasilitasi, dan melaksanakannya. Misalnya metode ceramah, menuntut kemampuan pendidik untuk berbicara menyusun retorika, mengatur irama dan seterusnya. Metode simulasi menuntut kemampuan pendidikan menyusun situasi bermasalah dan atau permainan bagi anak; metode diskusi menuntu
Macam-Macam Metode Pendidikan
Sejalan dengan pembedaan Antara pendidikan arti luas atau pendidikan arti umum dan pendidikan arti khusus, maka juga dapat dibedakan Antara metode pendidikan dan metode pengajaran. Dalam pengajaran selain proses pembelajaran juga memerlukan evaluasi, maka dalam pengajaran terdapat metode evaluasi pengajaran, yang bisa disebutdengan penelitian pendidikan. Berikut tiga macam metode pendidikan :
Metode pendidikan. Metode ini dapat digunakan oleh orangtua sebagai pendidik utama dan pertama. Orangtua memeperoleh kemampuan mendidik anak-anak mereka secara tradisional, dengan cara meniru orang tuanya turun-temurun dalam keluarga. Metode pendidikan dalam keluarga ini utamanya berupa pembiasaan dan peneladanan. Metode pembiasaan dan peneladanan, dalam batas-batas tertentu, juga digunakan dalam pendidikan formal.
Metode pengajaran. Metode pengajaran terkait erat dengan ilmu megajar pada umumnya dan ilmu cara mengajarkan mata pelajaran tertentu. Didaktik dan Metodik tercakup didalam ilmu mendidik, yang dalam UU Guru dan Dosen masuk kategori kompetensi pedagogik.
Metode penelitian pendidikan. Metode penelitian pendidikan selain untuk mengealuasi pelaksanaan program pendidikan, sejauh mana pelaksanaan pendidikan telah mencapai tujuan yang di teteapkan juga untuk mengembangkan pendidikan itu sendiri. Yang termasuk dalam metode penelitian pendidikan antara lain survei dan eksperimen dengan alat ukur seperti tes, wawancara, observasi, dan kuesioner. Metode penelitian pendidikan tidak akan dibicarakan lebih lanjut di sini melainkan sebagai mata kuliah tersendiri.
PEMBAHASAN
Al-Baqarah (30-34)
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Dengan kemampuan akal, manusia bisa mengelola alam semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah pertambangan, tumbuhtumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi yang tandus menjadi subur dan bukit yang terjal bisa menjadi dataran atau lembah yang subur. Dengan kemampuan akalnya, manusia juga dapat merubah jenis tanaman baru sebagai hasil cangkok, sehingga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah yang maha kuasa untuk kepentingan umat manusia.23 Hal ini menunjukkan bahwa manusia dianugerahi oleh Allah dengan bakat-bakat dan keistimewaan dalam dirinya. Sehingga ia akan mampu melaksanakan funfsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan segala kemampuannya, manusia akan dapat mengungkapkan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah.
dalam surah Al-Baqarah ayat 31-32, ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahi Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda. Misalnya fungsi api, angin, air dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan di mulai denghan kata kerja, tetapi mengajarkannya terlebih dahulu nama-nama. Sebagian ulama ada yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam dalam arti mengajarkan kata-kata. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ketika dipaparkan nama-nama benda itu, pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda itu pada saat dipaparkannya, sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda yang lain. Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dalam bentuk mendiktekan sesuatu atau menyampaikan suatu kata atau ide, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan. Dengan demikian salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menagkap bahasa sehingga ini mengantarkannya untuk “mengetahui”. Di sisi lain kemampuan manusia merumuskan ide dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.
Hikmah Tuhan mengajarkan nama-nama kepada Adam dan kemudian mengajarkannya kepada para malaikat adalah untuk memuliakan Adam dan mengutamakannya, sehingga malaikat tidak membanggakan diri dengan ilmu dan makrifatnya. Selain itu juga untuk menunjukkan rahasia ilmu yang tersimpan dalam perbendaharaan ilmu Allah yang Maha Luas dengan perantaraan lisan seorang hamba yang dikehendaki-Nya.29 Meskipun malaikat merupakan makhluk-makhluk suci yang tidak mengenal dosa, tetapi mereka tidak wajar menjadi khalifah, karena yang bertugas menyangkut sesuatu harus memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek pengetahuan yang berkaitan dengan tugasnya. Khalifah yang akan bertugas di bumi, harus mengenal apa yang ada di bumi, paling sedikit nama-namanya atau bahkan potensi yang dimilikinya. Hal ini tidak diketahui oleh malaikat, tetapi Adam mengetahuinya. Karena itu, dengan jawaban para malaikat sebelum ini dan penyampaian Adam kepada mereka terbuktilah kewajaran makhluk yang diciptakan Allah itu untuk menjadi khalifah di dunia. Kekhalifahan di bumi adalah kekhalifahan yang bersumber dari Allah SWT, yang antara lain bermakna melaksanakan apa yang dikehendaki Allah menyangkut bumi ini. Dengan demikian pengetahuan atau potensi yang dianugerahkan Allah itu merupakan syarat sekaligus modal utama untuk mengolah bumi ini. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal meskipun seandainya dia tekun ruku’, sujud dan beribadah kepada Allah. Melalaui kisah ini, Allah SWT bermaksud menegaskan bahwa bumi dikelola bukan semata-mata hanya dengan tasbih dan tahmid tetapi juga dengan amal ilmiah dan ilmu amaliah.
Ar-Rahman (1-4)
(tuhan) yang Maha pemurah,
yang telah mengajarkan Al Quran.
Dia menciptakan manusia.
mengajarnya pandai berbicara.
Surat Ar-Rahman ayat 1-4 merupakan ayat yang menjelaskan tentang subyek (pelaku) pendidikan. Nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat ini adalah sebagai berikut:[6]
seorang pendidik atau guru harus mempersiapkan dirinya dengan sifat rahman, yaitu mempunyai sifat kasih sayang kepada seluruh peserta didik atau murid tanpa pandang bulu, baik kepada murid yang pintar, bodoh, rajin, malas, baik ataupun nakal. Ilmu yang ditransfer dan diterapkan dengan dasar kasih saying akan besar efeknya kepada murid, terutama dalam penyerapan ilmu yang ditransfer.
sebelum guru berada dihadapan siswa. Guru harus terlebih dahulu mempersiapkan dalam artian menguasai, memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa. Sehingga seorang guru dapat maksimal mentransfer ilmunya kepada siswa.
Seorang guru apapun materi yang ia ajarkan hendaknya mengarahkan siswanya menjadi manusia yang berpengetahuan, beradab dan bermartabat yang berujung kepada ketaqwaan kepada Yang MahaEsa. Bukan hanya mengarah kanpada aspek prestasi saja.
seorang guru apapun pelajaran yang disampaikan, sampaikanlah dengan sejelas-jelasnya, sampai pada tahap seorang siswa benar-benar faham. Jangan sampai seorang siswa belum betul-betul faham pada materi yang diajarkan sudah pindah kemateri yang lain.
An-Najm (5-6)
yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli.
Kata (علّمه) ‘allamahu/ diajarkan kepadanya bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Bukankah kita mengajar anak kita membaca, padahal sering kali bacaan yang diajarkan itu bukan karya kita. Menyampaikan atau menjelaskan sesuatu secara baik dan benar adalah salah satu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menyampaikannya secara baik dan benar kepada Nabi saw., dan itulah yang dimaksud dengan pengajaran disini.
Kata (مرّة) mirrah terambil dari kalimat (أمرت الحبل) amrartu al-habla yang berarti melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata (ذو مرّة) dzu mirrah digunakan untuk menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-Baqa’i memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa sedikit pun mengarah kepada tugas selainnya disertai dengan keikhlasan penuh. Ada juga yang memahaminya dengan kekuatan fisik, akal, nalar.[2] Penjelasan lain dari kata Dzu mirrah adalah yang mempunyai kecerdasan akal. Sifat Jibril yang pertama menggambarkan tentang betapa kuat pikiran dan betapa nyata pengaruh-pengaruhnya yang mengagumkan. Kesimpulannya, bahwa Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran,dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil kaum luth dari laut hitam yang waktu itu berada dibawah tanah, lalu memanggulnya pada kedua sayap dan diangkatnya dari negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak kepada kaum Tsamud, sehingga mereka meti semua.(Pendidikan & Pengantar, 2020)
SIMPULAN
Pendidikan sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram yang dilakukan par pendidik terhadap para terdidik agar mereka menjadi generasi terpelajar dan terdidik sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.Tujuan pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan manusia yang beriman bertakwa,dan sekaligus berilmu pengetahuan dan berketerampilan.Sedang tujuan pendidikan dalam Islam identik dengan tujuan hidup dan perjuangan.
Mendidik dan dididik adalah kegiatan fundamental. Supaya anak menjadi dewasa, ditetapkan isi atau materi yang relevan untuk keperluan pertumbuhan. Isi pendidikan meliputi nilai, pengetahuan, dan ketrampilan. Di samping itu, metode pendidikan juga diperlukan karena berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan selalu terkait dengan proses pendidikan. Dalam memilih metode yang tepat, perlu memperhatikan tujuan yang hendak dicapai, kemampuan pendidik, kebutuhan peserta didik, dan isi atau materi pendidikan(Music & Blog, 2020)
DAFTAR PUSTAKA
Jordan. (2013). 済無No Title No Title. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Music, M., & Blog, A. (2020). subjek,objek,tujuan pendidikan. 1–26.
Pendidikan, M. L., & Pengantar, K. (2020). Erisca hapsari. September 2016, 1–11.
Technologies, K. (2020). Abstrak . Kata kunci : Tujuan Pendidikan DAQ Temperature Measurements. 1–20.
Komentar
Posting Komentar